Sekitar 25 tahun yang lalu; dunia pertelevision berkembang tidak terkendali. Seingat saya sebagai penulis - sekitar tahun 1991 RCTI mulai terbentuk; kemudian SCTV lalu diikuti oleh Indosiar, ANTV dan sekarang entah sudah berapa channel televisi yang terbentuk di Indonesia.
Satu hal yang saya ingat sekali adalah banyak film-film dan sinetron (terutama produksi negara rumpun Cina) yang menampilkan benda mirip biji-bijian yang dijalin dengan tali yang secara umum; disebut Tasbih.
Film Kera Sakti misalnya; pendeta Tong Sam Chong yang membawa tasbih dengan biji sebesar bawang Bombay dalam perjalanannya ke barat mencari kitab suci. Ada juga film kartun Jepang yang diangkat dari komik seperti Shulato, Kabuto dan Dragon Ball. Ada juga film-film hantu vampire Cina yang pendetanya selalu membawa tasbih raksasa seukuran karangan bunga.
Sesekali terbersit dalam pikiran, apa sih gunanya benda itu? Waktu itu umur saya belum genap 10 tahun; wajar jika ada pertanyaan semacam ini.

 

 

Biji tasbih (Arab: مسبحة Misbaḥah; سبحة Subḥah) adalah alat berhitung dalam beribadah bermacam-macam umat beragama, baik agama samawi dan agama dharmik. Sebagian umat Muslim menggunakan biji tasbih sebagai alat menghitung zikir (mengucapkan puji-pujian kepada Tuhan), sedangkan sebagian lainnya menggunakan jari kanan untuk berzikir.[1]

Tasbih sendiri berasal dari bahas Urdu “Tasbeeh” atau “Tespih” dari bahasa Albania, Turki and Bosnia. Dalam Bahasa Arab dikenal dengan Misbaha. Dalam agama Hindu dan Budha; tasbih ini dikenal dengan nama Japamala atau Genitri. Sedangkan dalam agama Yahudi (Yudaisme) tidak digunakan tasbih, tetapi menggunakan selendang doa Yahudi yang dikenal sebagai “Tallit”. Selendang ini berisi simpul yang fungsinya mirip dengan tasbih pada umumnya.
Jadi apa fungsi Japamala atau Genitri atau Tasbih ini?

Dalam Katolik biji tasbih lebih sering disebut dengan "biji rosario". Para Buddhisme di Jepang, menamakannya dengan "juzu" (manik-manik menghitung) atau "nenju" (manik-manik pikir), dan kedua kata biasanya diawali dengan huruf 'o-' yang kehormatan (seperti dalam "o-juzu Mala dalam budaya Tiongkok (Tionghoa: pinyin: cháozhū).
Dalam budaya Tiongkok, rosario tersebut bernama zhu shu ("manik-manik menghitung"), untuk zhu ("Buddha manik-manik"), atau zhu nian ("tasbih"). Buddha Theravada di Burma juga menggunakan tasbih, disebut ba-di [bədí]. Biji tasbih tersebut biasanya terbuat dari kayu harum, dengan serangkaian tali berwarna cerah pada ujungnya.

 

Asal mula yang tepat dari tasbih masih belum pasti, tetapi penggunaan awalnya bisa dilacak jejaknya kedalam agama Hindu di India, kemudian Buddha kemungkinan meminjam konsep dari agama Hindu.[2][3] Terdapat patung seorang pria suci Hindu mengenakan manik-manik berasal pada abad ke-3 SM.
Perkembangan tasbih yang pesat terjadi pada abad 15 M dan 16 M. Dalam kitab Musaahamatul Hindi disebutkan, bahwa umat Hindu terbiasa menggunakan tasbih untuk menghitung ritualnya, sehingga menghitung dzikir dengan tasbih diakui sebagai inovasi dari orang Hindu (India) yang bersekte Brahma. Dari India inilah kemudian biji tasbih menyebar ke berbagai penjuru dunia.

 

Dalam Islam, Orang Arab menyebutnya biji tasbih dengan bermacam-macam nama, diantaranya adalah subhah, misbahah, tasaabih, nizaam. Sementara orang-orang sufi menyebutnya dengan al mudzakkirah billah (pengingat kepada Allah), raabitatul qulub (pengikat hati), hablul washl atau sauth asy syaithan (cambuk syaitan).
Untuk mengucapkan bacaan tasbih secara berulang-ulang ini diciptakanlah alat yang disebut misbaha dan di Indonesia sendiri disebut juga dengan nama biji tasbih terkadang disingkat menjadi tasbih (tasbeh) saja. Biasanya biji tasbih dibuat dari kayu, namun ada pula biji tasbih yang dibuah dari bji-biji zaitun. Umumnya seutas biji tasbih terdiri dari 99 batu. Angka 99 ini melambangkan 99 Asma Allah. Namun ada pula biji tasbih yang terdiri dari 33 atau 11 batu-batuan. Pada kedua kasus terakhir ini, sang pengguna harus mengulangi lingkaran tiga atau sembilan kali. Meskipun begitu, ada pula biji tasbih yang terdiri dari 100 atau 1.000 batu.

 

Dalam Katolik Tasbih ini dalam Gereja-Gereja Orthodox dan Gereja-Gereja Katolik Ritus Timur (Gereja Uniat) dikenal sebagai komboskini, Komboschini, Komboschoinion, Komboschoinia, Komvoschini, Komvoschinon, Komvoschinion, Komvoschinia, Comboschini, atau Chomboschini. Kadang-kadang tasbih ini disebut juga sebagai ”Rosario Byzantin”. Saat ini tasbih Yunani juga tersebar secara luas dan digunakan di Gereja Roma Katolik. Tasbih ini terbuat dari wol hitam atau warna lain yang dipintal dan berbiji 100, ada juga yang lebih pendek, terdiri dari 33 manik-manik. Mungkin untuk mengingat umur Yesus dimuka bumi yaitu 33 tahun.

 

Dalam agama Hindu; Tasbih disebut dengan istilah Japa Mala. JAPAMALA terdiri dari dua kata induk Bahasa Sanskrit yaitu : JAPA dan MALA. Japa adalah pengulangan mantra suci selama beberapa kali. Mala adalah butir-butir yang dirangkai dengan benang kapas. Jadi Mala yang digunakan untuk ber-Japa disebut JAPAMALA. Perkataan Japa juga terdiri dari dua kata pokok yaitu JA artinya menghancurkan siklus kelahiran dan kematian (samsara/purnabhawa), dan PA artinya menghancurkan segala dosa.

Mengenai penggunaan angka 108 ada dua versi yaitu : 1) Mitologi Bhagawan Walmiki yang ketika masih walaka bernama Ratnakara pernah merampok 108 Pendeta, namun ketika akan menganiaya Pendeta yang ke 109 yang ternyata penyamaran Dewa Siva, Ratnakara menjadi sadar dan bertobat, kemudian beliau disuruh ber-Japa selama 100 tahun. Setelah masa itu lampau, Ratnakara disudhi menjadi Bhagawan Walmiki. Jadi angka 108 dalam hal ini adalah tonggak kesadaran dan permohonan ampun atas dosa-dosa yang lalu. 2) Angka 108 adalah unik dan sakral, karena jika dijumlahkan : 1+0+8 = 9

 

Yang menarik dari Japamala ini adalah angkanya yang 108? Jika kita lihat dari kacamata astronomi angka ini sangat menarik.

Coba perhatikan gambar dibawah; Angka X, Y dan Z adalah merupakan sebuah angka yang kita cari.

 

1. Pertama nilai X

Jika kita menempatkan bulan di antara Bumi dan Bulan maka berapa buah Bulan yang akan muat?

Untuk menghitung berapa buah Bulan yang muat kita perlu mengetahui jarak Bulan dan Bumi - dengan data-data dibawah.

 

Diameter bulan 3.474 km
Jarak Bumi Bulan Terdekat 363.396 km
Jarak Bumi Bulan Terjauh 405.504 km
Jarak Bumi Bulan rata-rata 384.450 km

 

 

Dengan perhitungan sederhana kita dapat mengetahui bahwa saat jarak terdekat maka hasilnya adalah 104 dan saat jarak terjauh 116.

Atau rata-rata sekitar 110.

 

2. Kedua adalah nilai Y

Jika kita menempatkan Matahari di antara jarak antara Bumi dan Matahari - maka berapa Matahari yang muat?

Untuk menghitung kembali kita perlu data-data astronomi.

 

Diameter matahari 1.391.400 km
Jarak bumi matahari dekat 147.000.000 km
Jarak bumi matahari jauh 152.000.000 km
Jarak Bumi Matahari Rata-rata 149.500.000 km

 

Dengan perhitungan sederhana kita dapat mengetahui bahwa saat jarak terdekat maka hasilnya adalah 105 dan saat jarak terjauh 109.

Atau rata-rata sekitar 107.

 

3. Ketiga adalah nilai Z

Jika kita menempatkan Bumi dalam Matahari, maka berapa Bumi yang muat?

Kembali kita sajikan data-data.

 

Diameter bumi 12.742 km
Diameter matahari 1.391.400 km

 

Dengan perhitungan sederhana, di dapat angka 109

 

Tanpa ada unsur cocoklogi atau mencoba mencocok-cocokan situasi, menurut pendapat saya pribadi sebagai berikut;

Kenapa jumlah Japamala/Genitri/Tasbih dalam agama Hindu berjumlah 108?

1. Agama Hindu memiliki kitab suci bernama Weda. Jumlahnya ada ratusan buku mulai dari Rg Weda, Sama Weda, Yayur Weda, Atharwa Weda, Itihasa, Bhagawad Gita, Jyotisa dan lain sebagainya.

2. Salah satu bidang ilmu Weda yang khusus mempelajari Astronomi adalah Jyotisha. Apakah Jyotisha diwahyukan langsung oleh Tuhan/Ida Hyang Widhi? Hmmmm no body knows, tapi menurut saya istilah diwahyukan bisa berarti diberikan langsung atau pun tidak langsung (melalui penelitian).

3. Dalam menyusun Jyotisha para ahli astronomi menemukan angka-angka unik ini yang kemudian dijadikan salah satu angka istimewa

4. Angka istimewa tersebut kemudian dijadikan salah satu rujukan untuk membuat angka Japamala/Genitri/Tasbih.

 

Menarik bukan? Bahwa para ahli astronomi jaman Weda sudah menemukan hal-hal ini? 

Banyak lagi hal-hal sains yang ada di Weda yang menunggu untuk ditemukan oleh sains modern. 

 

Weda sendiri berasal dari kata Vid ~ Vidya yang berarti ilmu pengetahuan.

Ada pula dalam Weda istilah Parawidya (Spiritual) dan Aparawidya (Sains). Aspek Parawidya lebih cenderung membahas tentang sains yang bersumber dari observasi dan penelitian. Sementara Parawidya membahas aspek magic/gaib/unthinkable dari Tuhan Yang Maha Kuasa.

 

Menarik? Tentu saja.